MIDIAN SIRAIT
10 Januari 2011 09:00
Berita Aktual

Lahir di Lumban Sirait, Sumatera Utara pada 12 November 1928, Midian Sirait tidak hanya dikenal sebagai pakar farmasi, melainkan juga sebagai politisi dan pejuang kelestarian kawasan Danau Toba di Sumatera Utama.

Mengabdi kepada bangsa dan negara sebagai Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan selama 10 tahun (periode 1978-1988), Midian Sirait terkenal dengan kebijakan penetapan daftar obat esensial. Berkat pengabdiannya tersebut, beliau mendapatkan anugerah Tanda Kehormatan RI Bintang Mahaputera Utama yang diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada Jumat 13 Agustus 2010 di Istana Merdeka. Tanda Kehormatan ini dianugerahkan kepada tokoh yang dianggap berjasa dalam meningkatkan kesejahteraan dan kemajuan bangsa.

Minggu, 9 Desember 2011, tokoh yang dikenal giat, penyabar, perhatian dan penuh perhatian ini meninggal di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, pada Minggu pukul 09.25. Sejak Mei 2009, almarhum sempat dirawat di National University Hospital Singapura, RS Medistra, dan RS Pondok Indah karena masalah gagal ginjal dan komplikasi beberapa penyakit.

Almarhum disemayamkan di rumah duka Jalan Taman Wijaya Kusuma I Nomor 18A, Cilandak, Jakarta Selatan. ”Rencananya almarhum akan dimakamkan di Porsea, Sumatera Utara, Rabu, 12 Januari 2011,” kata Poltak Sirait. Almarhum meninggalkan tiga anak, yaitu Sondang P. Sirait (48), Poltak Sirait (47), dan Sinta Sirait (42), serta empat cucu.

Semasa hidupnya, almarhum menjadi Guru Besar Ilmu Kimia Bahan Alam Institut Teknologi Bandung (ITB) dan pernah menerima medali Hermann Tomms dari Perkumpulan Ahli Farmasi Jerman pada tahun 1965.

Selamat jalan, Pak. Doa kami mengiringi kepergianmu.

(dari berbagai sumber)